Segalanya Bermula Disini

Wahai Nabi, moga salam sejahtera tetap kepadamu.
Wahai Rasulullah, moga salam sejahtera tetap kepadamu.

27 Mei 2016

Mulianya Wanita.


Allah tidak menjadikan nabi di kalangan wanita. Tetapi Allah memuliakan wanita di dalam Al-Quran dengan menamakan surah An nisa'.
Manusia yang pertama beriman kepada Allah selepas Rasulullah ialah wanita Siti Khadijah r.anha. Manusia pertama yang syahid karena agama Allah juga adalah wanita Sumayyah r.anha. Dan Allah juga mengangkat perbuatan Siti Hajar r.anha yang juga seorang wanita yang berlari-lari antara Safa dan Marwah di dalam rukun haji, yaitu sai.

Wanita adalah yang paling mudah memasuki syurga tetapi wanita jugalah yang paling ramai menjadi penghuni neraka.

Sabda Nabi yang mafhumnya;
"Wanita yang sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan dan mentaati suaminya, maka masuklah dia ke syurga melalui mana-mana pintu yang disukainya".

Masya Allah, senang mendengarkannya. Tapi hakikatnya tidaklah semudah itu.
Jika kita lihat bagaimana pengorbanan Siti Khadijah r.anha, tentunya kita tidak dapat seperti apa yang beliau telah lakukan. Sebelum memeluk Islam dan menjadi isteri Rasulullah saw, beliau ialah seorang hartawan, peniaga yang mashyur, terkenal, dan beliau beriman kepada Allah, seluruh hartanya diinfaqkan (dibelanjakan) ke jalan Allah swt. Sehinggakan di akhir hayatnya, ketika di pangkuan Rasulullah saw, katanya "Ya Rasulullah, jika tulang belulangku ini dapat dijadikan jambatan untuk keluar ke jalan Allah, maka ambillah. Aku ridha ya Rasulullah".

Begitu juga kisah Sumayyah r.anha yang semua ahli keluarganya habis di bunuh oleh pembesar kafir Quraisy. Iman di dadanya sedikitpun tidak goyah sampai nyawanya menjadi korban karena dia yakin, syurga Allah telah menantinya.

Kesabaran dan ketaatan Siti Hajar r.anha kepada suaminya dan iman yang kental terhadap Tuhannya, membuatkan beliau tidak sedikit pun gentar ditinggalkan di tengah-tengah padang pasir yang panas, untuk hidup bersama bayinya Nabi Ismail a.s yang masih merah. Tetapi Allah Maha Besar, setiap hamba yang taat kepadaNya akan dibalas dengan kebaikan. Dari hentakan kaki nabi Ismail a.s, maka terpancarlah air zam-zam yang Allah janji tidak akan kering hingga hari Kiamat.

Allahu Akbar!

Betapa besarnya pengorbanan para sahabiah r.anha ketika itu. Sanggup kehilangan harta, suami, anak-anak demi agama Allah swt. Karena mereka yakin dengan janji Allah swt, Allah telah menyipakn yang lebih baik daripada di dunia, harta dan orang mukmin dengan syurga Allah swt. Apa lagi yang kita harapkan jika Allah swt sendiri sudah tawarkan syurgaNya untuk kita? But for sure, ada harga yang perlu dibayar untuk mendapatkan ganjaran itu. Dan dunia ini adalah tempat untuk kita membuktikannya.


Sabda Rasulullah saw yang mafhumnya,
"Dunia itu adalah penjara bagi orang mukmin dan syurga bagi orang kafir".

Semoga kita menjadi wanita yang solehah.
Ya Allah, permudahkanlah urusan kita di dunia dan akhirat.
Inshaa Allah.
Wallahualam.

09 April 2015

Siapa Kita?



Semakin hariku rasakan semakin manis perjalanan hidupku. Alhamdulillah, walau jalan berliku terpaksa ditempuh, namun cukup bernilai apabila perjalanan dilalui dengan penuh keikhlasan dan niat yang jelas.

Alhamdulillah, karena masih mampu menulis dan diberikan ilhamNya untuk terus dan terus menulis di blogg ini. Dengan itu kalian mampu membaca hasil tulisan saya yang tak seberapa bagus ini.
Berharapkan sama-sama mendapat manfaat. Semoga saling mengingatkan dan sampaikanlah kebaikan dan pesan walau 1 ayat.

Saat saya sedang bermain facebook, saya tertarik dengan status salah seorang teman Facebook dan saya copy sebagian dari statusnya untuk menjadi status saya.
Alhamdulillah, niat untuk memberi kesadaran kepada kita semua, termasuk saya. Ya! Termasuk saya. Saya juga manusia yang tidak sempurna, kadang salah pandang dan underestimated orang lain juga.

Kita semua sama di sisiNya. Ingatlah teman, karena kita semua makhluk ciptaan Allah yang mempunyai kekurangan dan kelebihan. Setiap kekurangan yang ada merupakan 1 muhasabah yang perlu kita hayati agar kita menjadi insan yang lebih baik dan bersyukur. Coba kita sama-sama renungkan.

Melalui kehidupan yang lepas, biarlah kita jadikan semua kesalahan dan kekhilafan kita sebagai pengajaran dan pendidikan agar kita lebih baik di masa sekarang dan masa akan datang. Yang penting, jangan sesekali salah tafsir orang lain dengan melihat dari sudut yang negatif.
Pandanglah kehidupan dari sudut yang positif. Inshaa Allah, hati kita akan tenang. Jangan sesekali memandang rendah, karena setiap sesuatu yang datang itu beralasan. Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Mungkin, mereka yang kita pandang rendah itu lebih baik dari kita.


“Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, sakit, kebingungan, kesedihan hidup, atau bahkan tertusuk duri, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Muttafaq Alaih)
Sementara itu dalam kehidupan kita memang tidak bisa dipungkiri pasti akan menemui manusia yang memang sikapnya memandang rendah orang lain. Biarlah, karena suatu hari nanti dia pasti sadar dari kesalahannya. Kita doakan saja. Semoga dia diberi hidayah Allah. Jangan pernah berputus asa mendoakan seseorang.

"Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya menjadi kebaikan, dan hal itu tidak pernah terjadi kecuali bagi seorang mukmin: jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka hal itu menjadi kebaikan baginya, dan jika ia mendapatkan musibah, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya" 
(Hadith Riwayat Muslim)

Inshaa Allah, sesungguhnya semakin kita menjelajahi suatu ilmu yang bermanfaat, semakin banyak manfaat yang kita dapat dan peroleh untuk tujuan bersama.
Siapa bilang Facebook itu suatu media sosial yang tak bermanfaat?
Renung-renungkan semua. Salam Muhasabah dan istiqamah dalam kebaikan!

"Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)" -  QS. Al-Isra':72

Renungan untuk kita semua.

Mari kita tajamkan mata hati dengan alunan dzikir dan bacaan ayat-ayat Al-Qu'ran.


Dita Rizqi Tri Hakim

23 April 2014

Pelangi setelah Hujan


Tukar argumen. 
Ujian = Rebah. 
Tetapi setelah itu? Ujian = Bangkit kembali. Pandang kedepan. Teruskan.
Allah bagi ujian karena sayang. Kan?
Allah bagi ujian karena kasih. Kan?
Allah bagi ujian karena uji kesabaran. Kan?
Allah bagi ujian karena ingin tingkatkan iman. Kan?
Allah bagi ujian karena ingin kita kembali mengingati Dia. Kan?
Allah bagi ujian karena ingin kita sadar kesalahan kita. Kan?
Allah bagi ujian karena ingin kita tahu Allah rindu kita bercakap dengan Dia. Kan?
Allah bagi ujian karena rindu kita mengadu pada Dia. Kan?
Allah bagi ujian karena ingin kita tahu Allah senantiasa ada diwaktu masa, senang atau susah. Kan?

Allah turunkan hujan karena ingin munculkan pelangi. Kan?
Jadi, jangan putus asa.
Jangan pernah putus asa.
Rahmat Allah senantiasa ada InShaa Allah.
InShaa Allah.
Dah sudah berhentilah menangis. 
Dah sudah kesat air mata. 
Dah sudah lupakan segalanya. 
Dah boleh senyum~ 
Alhamdulillah.
Allah senantiasa sayang kepada hambaNya.
Senantiasa.


                              Dita Rizqi Tri Hakim


30 Januari 2014

She have Him and live happily ever after.

She and her love story ..

She loves sky.
She look into the sky.
And the sky is crying.
She make do'a.
She's gonna be alright.
She was strong for so long. But she's okay now.
She's not hurting. She doesn't have to suffer.
She's happy again.

She didn't know how strong she was. Until being strong was the last choice she had. And she realized, she have Him. And she live happily ever after.






ALLAH IS THE GREATEST. GREATEST.
THE LORD OF THE WORLDS.
ALL PRAISE IS DUE TO ALLAH.



Setiap yang bernafas diatas muka bumi, Tuhan tidak pernah beri kisah yang sia-sia. Karena Tuhan tidak pernah salah dalam mengatur manusia. Tuhan maha tahu, maha mengerti. Tuhan paling maha adil. Kita merasa kita kenal diri kita sendiri, merasa orang-orang disekeliling tahu setiap inci pasal kita, tapi kenyataannya Tuhan lebih kenal kita. Tuhan tidak memberi 'hadiah' untuk melemahkan, sebaliknya yaitu untuk memperkuat. Ambil ibrah, walau payah.



He is watching. You are never alone. - Quran 20:46

I depend on Him so much.

You depend on Him so much.
Yes, we depend on Him.
Because Allah is all knowing.

Be the best version of you. Tetaplah berjalan. Tetaplah Qowiy. 

Berjalanlah di atas muka bumi Tuhan dengan penuh rasa kehambaan, karena Tuhan sedang memperhatikan kita dengan penuh rasa sayang.

Ikutilah yang mana yang terbaik dengan aturan Tuhan. Karena setiap apa yang Tuhan beri, tidak akan pernah salah.


♥  Dita Rizqi Tri Hakim



14 September 2013

Renungan Diri Hawa :')


"Sebaik-baik wanita ialah yang tidak memandang dan tidak dipandang oleh lelaki."

Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik dimatamu.
Apa gunanya aku menjadi perhatian lelaki andai murka Allah ada disitu.
Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku nantinya hanya bisa menjadi milik seorang.
Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati.
Aku juga tidak mau menjadi penyebab kejatuhan seorang lelaki yang dikecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan.

Bagaimana nantinya aku jawab di hadapan Allah kelak andai ditanya?
Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup di muka bumi?

Kalau aku tidak ingin kau memandang perempuan lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandanganku.
Aku harus memperbaiki dan menghias pribadiku karena itulah yang dituntut oleh Allah. Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suamiku, aku juga perlu menjadi perempuan yang baik.
Bukankah Allah telah menjanjikan perempuan yang baik itu untuk lelaki yang baik?

Tidak kemunafikan sebagai remaja, aku memiliki prasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu karena ia semata-mata untukmu.
Allah telah memuliakan seorang lelaki yang bakal menjadi suamiku untuk menerima hati dan perasaanku yang suci. Bukan hati yang menjadi labuhan lelaki lain.
Engkau berhak mendapat kasih yang sejati.

Diriku yang memang lemah ini telah diuji oleh Allah saat seorang lelaki ingin berkenalan denganku. Aku dengan tegas menolak, berbagai macam dalil aku kemukakan, tetapi dia tetap tidak berputus asa.
Aku bertanya-tanya adakah aku berada di tebing kebinasaan?
Aku beristhigfar memohon ampunan-Nya. Aku juga berdoa agar Pemilik Segala Rasa Cinta melindungi diriku dari kejahatan.
Kehadirannya membuatku banyak memikirkan tentang dirinya. Kau kurasakan seolah-olah wujud bersamaku.
Di mana saja aku berada, akal sadarku membuat perhitungan denganmu.
Aku tahu lelaki yang menggodaku itu bukan dirimu. Malah aku yakin pada gerak hatiku yang mengatakan lelaki itu bukan teman hidupku kelak.

Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup.
Siapa aku ini untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang diwujudkan ada di mana-mana.
Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita yang lain, dilamar lelaki yang bakal memimpinku ke arah tujuan yang satu.

Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam, yang mampu mendebarkan hati jutaan gadis untuk membuat aku terpikat.

Seandainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah.
Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dibazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk membuat begitu. Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan.
Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.

Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari redha Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu.
Bahkan aku sangat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu.
Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku. Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku.
Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa.

Semoga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga.
Seorang gadis yang membiarkan dirinya dikerumuni, didekati, diakrabi oleh lelaki yang bukan mahramnya, cukuplah dengan itu hilang dirinya di hadapan Allah.
Di hadapan Allah. 
Di hadapan Allah.

Yang dicari walau bukan putra raja, biarlah putra Agama.
Yang diimpikan, biarlah tak punya rupa, asal sedap dipandang mata.
Yang dinilai, bukan sempurna sifat jasmani, asalkan sehat rohani dan hati.
Yang diharap, bukan jihad pada semangat, asal perjuangannya ada matlamat.
Yang datang, tak perlu rijal yang gemilang, karena diri ini srikandi dengan masa silam yang kelam.
Yang dinanti, bukan lamaran dengan permata, cukuplah akad dan janji setia.

Dan yang akan terjadi, andai tak sama dengan kehendak hati, inshaaAllah aku redha ketetapan Illahi..
Wahai hawa, ku ingatkan diriku dan dirimu, moga redha Allah akan senantiasa mengiringi dan memberkati perjalanan hidup ini..


♥  Dita Rizqi Tri Hakim

07 Juni 2013

Aku Cuma An-Nisaa Akhir Zaman


Ya Allah, Jadikan aku tabah seperti Ummu Khadijah. 
Sehingga dirinya digelar afifah solehah. Dialah wanita pertama tiada ragu mengucap syahadah. Pengorbanan bersama Rasulullah susah senang bersama. Walau hilang hartanya karena berdakwah. Walau dipulau 3 tahun 3 bulan. Imannya tak sedikitpun goyah. Mampukah aku setabah dirinya? Andai diuji sedikitpun sudah goyah. Baru dihina sudah mengalah. Ya Allah, tabahkan aku sepertinya..

Ya Allah, Jadikan aku semulia Fatimah Az-Zahrah. 
Betapa besar kasih sayangnya kepada ayahandanya. Tidak pernah putus asa pada perjuangan dakwah baginda. Anak yang semulia pribadi baginda. Tangannyalah yang membersihkan luka dan tangannya juga yang membersihkan cela pada jasad Rasulullah tercinta. Gagahnya dirinya kepada dugaan. Mampukah aku sekuat Fatimah? Saat aku terluka dan dendam menyapa. Saat disakiti dan dicaci maki. Ya Rabbi.. teguhkan hatiku sepertinya..

Ya Allah, Jadikan aku sehebat Masyitah dan Sumaiyah. 
Tukang sisir yang beriman dan Keluarga Yasir yang bertakwa. Sungguh kesabaran mereka menggoncang dunia. Iman tetap terpelihara walau nyawa jadi taruhan. Mampukah sabarku seperti mereka? Tatkala digoda nafsu dunia, entah dimana hilangnya Iman di dada.

Ya Rahman.. Kuatkan Imanku seperti Masyitah. 
Terjun dengan penuh yakin bersama bayi ke panci mendidih karena yakin Allah pasti disisi. Sabarkan aku seperti Sumaiyah biar tombak menusuk jasad. Iman tak sedikitpun rapuh.

Ya Allah, Jadikan aku semulia Ummu Sulaim. 
Perkawinannya dengan Abu Talhah atas mahar Iman. Islamlah Abu Talhah sehingga menjadi sahabat Rasulullah. Betapa hebatnya tarbiyyah istri pada suami. Hingga segala panahan ke Rasulullah pada hari uhud disambut dengan belakang jasad Abu Talhah.

Ya Allah, Tarbiyyahkan aku pada cinta sepertinya. Tingginya nilai cinta pada harga Iman. Mampukah aku menatap cinta itu? Sedangkan rupa yang menjadi pilihan Ketulusan Iman diketepikan.
Ya Allah.. Ilhamkan aku pada cinta yang sepertinya..

Ya Allah, Jadikan aku sehebat Aisya Humaira. 
Istri termuda Rasulullah. Biar dilempar fitnah dia tetap teguh pada ketetapanNya. Istri sejati yang memangku Nabi pada saat terakhir beliau. Hadits dan Sunnah Rasulullah dipertahankan. Betapa hatimu seorang mujahidah. Ya Allah.. Mampukah aku seperti dirinya? Pada fitnah yang melanda. Diriku mulai goyah dan putus asa, teguhkan Imanku sepertinya.. Ya Rahim..

Ya Allah.. Teringat diriku pada Khansa. 
Empat orang anaknya mati di Jalan ALLAH. Dia meratap tangis, Anak sulungnya syahid, Anak keduanya turut syahid. Anak ketiganya dan keempat juga mati syahid. Namun tangisan itu bukan karena kepergian anak tercinta. Jawabnya karena tidak ada lagi anak yang diantar untuk berjihad. 

Ya Allah, Mampukah aku menjadi ibu yang berjihad? Sedangkan anak tidak menutup aurat pun masih banyak. Sedangkan anak yang meninggalkan sholatpun banyak tak terhingga. 
Berikan aku kekuatan sepertinya Ya Allah. Agar bersedia pada akhirat.

Wahai kaum Adam yang bergelar khalifah, didiriku ini tidak setabah Ummu Khadijah. Bukan juga semulia Fatimah Az-Zahrah. Apa lagi sesabar Masyitah dan Sumaiyah. Ataupun sehebat Ummu Sulaim dan tidak seteguh Aisya Humaira. 
Karena aku hanyalah An-Nisaa akhir zaman. Dimana Aurat semakin dibuka terdedah. Dimana syahadah hanya pada nama. Dimana Dunia yang terus dipuja. Dimana nafsu fana menjadi santapan utama. Dimana batas senantiasa diabaikan. Dimana ukhwah sentiasa dipinggirkan.

Wahai Kaum Hawa, Kita cuma An-Nisaa. Para pendosa yang terbanyak di neraka.
Lantas walau tak setabah para Mujahidah namun Tabahlah pada ketetapan Allah, 
karena hanya padaNya ada Surga! 
Walau tak semulia para wanita sirah tapi muliakan diri dengan agama yang memelihara, 
karena padanya ada Pahala! 
Walau tak sesabar para wanita solehah namun sabarkan jiwa ini pada nafsu dunia yang menyiksa, 
karena padaNya ada bahagia!

Sesungguhnya Hawa seperti tulang rusuk kaum Adam. Bukan untuk ditindas karena lemah tapi untuk dilindungi karena Indah dan Indah apabila tertutup terpelihara. Karena disitulah terjaganya Syahadah. Bagaikan mekarnya wanita dalam sirah. Tuntunlah kami ke arah surga.

Bicara dari An-Nisaa yang hina.. 
Kabulkanlah doaku..
aamiin..


Loves, DRTH ♥

07 Juni 2011

Kenapa Teman Baik Sendiri yang Menyakitkan Hati?


Sakit, sakit yang begitu sakit!

Backstab!

Itulah yang dirasakan ketika kita 'disakiti' dengan teman baik sendiri, yang mungkin sudah dianggap sebagai kakak adik sendiri. Memang sesuatu yang normal bagi seorang manusia untuk merasakan sakit hati. Itu fitrah untuk merasa senang atau sedih. Apalagi kita diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang bersosialisasi yang mustahil untuk lepas dari kekhilafan. 
Dia pernah menjadi sahabat baik kita, pasti ada kebaikan yang pernah dilakukan kepada kita. Oleh karena itu maafkanlah dengan ikhlas dengan lapang dada .
Ya, dengan ikhlas. Kenapa? Mungkin, jika hati ini sakit, mereka yang tidak lagi dekat dengan kita, kita tidak ambil pusing. Who them to us. kan? Tapi bila "disakiti" dengan sahabat yang dianggap baik selama ini, itu feel torn apart inside.

Memang sakit. Sakit tanpa luka.
Mungkin kita tak dapat tersenyum, even untuk menutup perasaan ini daripada dibaca orang lain, meskipun pada kenyataannya kita tidak mau orang lain mengetahui kesedihan yang menimpa kita.
Hati ini memang suatu organ yang sensitif, super sensitif, sebab hanya dengan kata-katapun bisa menyebabkan luka. 
Kalau dipikir-pikir, memang haruslah Islam melarang anak mengatakan meskipun "Uh!" Kepada ibu kita, sebab dia pernah jadi teman baik kita selama 9 bulan. Makan, kerja dan tidur bersama.
Mungkin benda itu terlihat simple bagi kita, tapi bagi mereka yang benar-benar sayang kepada kita, kata itu sangat menyakitkan. Begitu juga bagi sahabat baik.
Mungkin selama ini kita pernah sakit hati, tetapi masih mampu tersenyuman. Tapi sampai pada suatu tingkat, kita tidak dapat menerima perbuatan atau perkataan dia. Kutuk mengutuk itu hal biasa. Tapi hal yang lebih serius dari itu, mungkin terasa seperti teriris.

Sabar , sabar dan sabar.....
Tak perlu kita membenci dia, tak perlu balas dendam. Anggap saja ini suatu ujian. Apa pun kata dia kepada kita, meskipun sangat mengiris hati, tentu itu terjadi dengan izin Allah.
Anggap saja ini episode atau ujian yang harus kita lalui untuk menguji keimanan kita.

Pesan dan Nasihat Luqman al-Hakim kepada anaknya:
"Wahai anakku, hendaklah kamu harus ingat kebaikan orang dan lupa kejahatan orang. Dan hendaklah kamu lupa kebaikan kamu terhadap orang dan ingatlah kejahatan yang kamu lakukan kepada orang"

Memaafkan..
Karena orang yang ikhlas selalu percaya bahwa Allah akan selalu memberikan yang terbaik kepada hambaNya. Orang yang ikhlas akan lebih mudah menangani hatinya untuk selalu menyerahkan segalanya hanya kepada Allah.

Hanya kepadaNyalah kita menggantungkan harapan.
Memang sulit membiarkan cinta membimbing kita saat hati kita disakiti . Biarpun luka hati itu kecil atau besar kita tidak bisa benar-benar bahagia sebelum memberi maaf dengan ikhlas..
Percayalah, niscaya kita akan bahagia.
Laa Tahzan, Innallahama'ana :’)

Ikhlas, Dita Rizqi Tri Hakim.
Eighth Note