Segalanya Bermula Disini

Wahai Nabi, moga salam sejahtera tetap kepadamu.
Wahai Rasulullah, moga salam sejahtera tetap kepadamu.

07 Juni 2011

Kenapa Teman Baik Sendiri yang Menyakitkan Hati?


Sakit, sakit yang begitu sakit!

Backstab!

Itulah yang dirasakan ketika kita 'disakiti' dengan teman baik sendiri, yang mungkin sudah dianggap sebagai kakak adik sendiri. Memang sesuatu yang normal bagi seorang manusia untuk merasakan sakit hati. Itu fitrah untuk merasa senang atau sedih. Apalagi kita diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang bersosialisasi yang mustahil untuk lepas dari kekhilafan. 
Dia pernah menjadi sahabat baik kita, pasti ada kebaikan yang pernah dilakukan kepada kita. Oleh karena itu maafkanlah dengan ikhlas dengan lapang dada .
Ya, dengan ikhlas. Kenapa? Mungkin, jika hati ini sakit, mereka yang tidak lagi dekat dengan kita, kita tidak ambil pusing. Who them to us. kan? Tapi bila "disakiti" dengan sahabat yang dianggap baik selama ini, itu feel torn apart inside.

Memang sakit. Sakit tanpa luka.
Mungkin kita tak dapat tersenyum, even untuk menutup perasaan ini daripada dibaca orang lain, meskipun pada kenyataannya kita tidak mau orang lain mengetahui kesedihan yang menimpa kita.
Hati ini memang suatu organ yang sensitif, super sensitif, sebab hanya dengan kata-katapun bisa menyebabkan luka. 
Kalau dipikir-pikir, memang haruslah Islam melarang anak mengatakan meskipun "Uh!" Kepada ibu kita, sebab dia pernah jadi teman baik kita selama 9 bulan. Makan, kerja dan tidur bersama.
Mungkin benda itu terlihat simple bagi kita, tapi bagi mereka yang benar-benar sayang kepada kita, kata itu sangat menyakitkan. Begitu juga bagi sahabat baik.
Mungkin selama ini kita pernah sakit hati, tetapi masih mampu tersenyuman. Tapi sampai pada suatu tingkat, kita tidak dapat menerima perbuatan atau perkataan dia. Kutuk mengutuk itu hal biasa. Tapi hal yang lebih serius dari itu, mungkin terasa seperti teriris.

Sabar , sabar dan sabar.....
Tak perlu kita membenci dia, tak perlu balas dendam. Anggap saja ini suatu ujian. Apa pun kata dia kepada kita, meskipun sangat mengiris hati, tentu itu terjadi dengan izin Allah.
Anggap saja ini episode atau ujian yang harus kita lalui untuk menguji keimanan kita.

Pesan dan Nasihat Luqman al-Hakim kepada anaknya:
"Wahai anakku, hendaklah kamu harus ingat kebaikan orang dan lupa kejahatan orang. Dan hendaklah kamu lupa kebaikan kamu terhadap orang dan ingatlah kejahatan yang kamu lakukan kepada orang"

Memaafkan..
Karena orang yang ikhlas selalu percaya bahwa Allah akan selalu memberikan yang terbaik kepada hambaNya. Orang yang ikhlas akan lebih mudah menangani hatinya untuk selalu menyerahkan segalanya hanya kepada Allah.

Hanya kepadaNyalah kita menggantungkan harapan.
Memang sulit membiarkan cinta membimbing kita saat hati kita disakiti . Biarpun luka hati itu kecil atau besar kita tidak bisa benar-benar bahagia sebelum memberi maaf dengan ikhlas..
Percayalah, niscaya kita akan bahagia.
Laa Tahzan, Innallahama'ana :’)

Ikhlas, Dita Rizqi Tri Hakim.
Eighth Note